RACUN KEMARAHAN
Yak 1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.
Orang yang baikpun masih bisa marah sebab amarah adalah reaksi emosional seseorang terhadap situasi-situasi tertentu dalam hidupnya. Meskipun terlihat wajar secara manusiawi, amarah yang tidak terkendali bisa merusak suasana hati karena amarah juga harus dipahami sebagai salah satu dari emosi yang berbahaya jika tidak terkendali, terutama karena bisa menyebabkan tindakan dosa yang merusak hubungan dengan sesama dan dengan Allah.
Frasa "amarah manusia" (bahasa Yunani: ὀργὴ γὰρ ἀνδρὸς – orgē gar andros) mengacu pada kemarahan atau murka yang muncul dari sifat manusiawi. Kata "orgē" bisa merujuk pada jenis amarah yang berkepanjangan, intens, atau bahkan dendam. Ini bukan sekadar kemarahan sesaat, melainkan kemarahan yang menguasai seseorang. Yakobus ingin menegaskan bahwa amarah yang tidak terkendali,tidak menghasilkan "kebenaran" yang diharapkan Allah.
Yesuspun pernah marah.
"Ia (Yesus) memandang mereka di sekeliling-Nya dengan marah, Ia sedih karena kedegilan mereka dan Ia berkata kepada orang itu: 'Ulurkanlah tanganmu!' Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu." (Markus 3:5, TB)
"Dan Yesus masuk ke dalam Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di dalam Bait Allah, dan membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku penjual burung. Dan Ia berkata kepada mereka: 'Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.'" (Matius 21:12-13, TB)
Yesus marah karena kasih, sementara manusia jika marah belum tentu demikian. Hindari kemarahan, kita sadar bahwa manusia daging kita bisa bereaksi melebihi yang kita pikirkan. Amin

