CINTA DAMAI
Dengar Audio Renungan
Matius 5:9
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Pada umumnya masyarakat kuno Timur Tengah saat itu memiliki budaya yang sangat menekankan suku, keluarga, dan harga diri. Sering kali mereka mengutamakan loyalitas kelompok di atas nilai perdamaian universal; dengan kata lain, damai menjadi nomor sekian.
Cinta damai inilah yang tidak didapatkan dari siapapun kecuali Yesus. Walaupun hidup dalam konteks budaya tersebut, ajaran-Nya berani berseberangan dengan norma yang ada. Ia menekankan kasih kepada musuh (Mat 5:44), pengampunan (Mat 6:14-15), dan menolak kekerasan (Mat 26:52). Bisakah kita melakukannya? Tentu saja! Karena pada hakekatnya setiap manusia menyukai ketenangan. Namun, perdamaian sejati harus dimulai dari dalam diri sendiri, yaitu hati yang diubahkan. Cinta damai sering kali gagal karena dihalangi oleh ego yang tidak mau tunduk pada Firman.
Cinta damai inilah yang tidak didapatkan dari siapapun kecuali Yesus. Walaupun hidup dalam konteks budaya tersebut, ajaran-Nya berani berseberangan dengan norma yang ada. Ia menekankan kasih kepada musuh (Mat 5:44), pengampunan (Mat 6:14-15), dan menolak kekerasan (Mat 26:52). Bisakah kita melakukannya? Tentu saja! Karena pada hakekatnya setiap manusia menyukai ketenangan. Namun, perdamaian sejati harus dimulai dari dalam diri sendiri, yaitu hati yang diubahkan. Cinta damai sering kali gagal karena dihalangi oleh ego yang tidak mau tunduk pada Firman.
INTI RENUNGAN
"Jika hati sudah berserah untuk dibentuk dan diisi kebenaran Firman, maka kita akan rela mengikuti jejak Sang Guru dalam membawa damai bagi sesama."
