MENGHAKIMI ATAU MEMPERBAIKI
Dalam perjalanan iman, kita sering bertemu dengan teguran. Namun, sering kali kita bingung membedakan antara teguran untuk menghakimi dan teguran untuk memperbaiki. Keduanya terasa menyakitkan, namun memiliki akar dan tujuan yang sangat berbeda.
"Teguran yang menghakimi adalah penjara bagi jiwa, tetapi koreksi Tuhan adalah tangga menuju kedewasaan rohani."
Teguran yang menghakimi biasanya berakar dari asumsi manusia.
Seperti sahabat Ayub, seseorang menghakimi ketika ia merasa memiliki "kebenaran mutlak" atas hidup orang lain. Ia berfokus pada kesalahan untuk memojokkan, bukan memulihkan.
Sebaliknya, teguran yang memperbaiki berakar dari kasih.
Galatia 6:1 mengatakan: "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan."
Koreksi yang benar dilakukan dengan roh lemah lembut oleh orang yang sadar bahwa dirinya pun bisa jatuh. Tujuannya bukan untuk memalukan, melainkan agar kita kembali berjalan di jalan yang benar.
Koreksi dari Tuhan selalu membawa kedamaian, bukan keputusasaan. Jangan biarkan hatimu terluka oleh penghakiman manusia, namun terbukalah untuk dididik oleh kasih Tuhan.
Tuhan kiranya mengajari kita untuk memiliki hati yang lembut dan memberi hikmat untuk membedakan suara-Nya di tengah kebisingan penghakiman manusia. Amin.
