KELUAR DARI SIFAT PENDENDAM 1
Renungan Hari Ini
“Akulah Yusuf, saudaramu, yang kamu jual ke Mesir… janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.”
Kisah Yusuf adalah kisah pengkhianatan keluarga yang sangat menyakitkan. Dijual oleh saudara kandung, dibuang, difitnah, dipenjara. Secara manusiawi, Yusuf punya semua alasan untuk membalas dendam. Tetapi saat ia berkuasa di Mesir, yang keluar dari mulutnya bukan balas dendam — melainkan pemulihan.
Dari sini kita belajar bagaimana keluar dari sifat pendendam. Pendendam lahir dari luka yang tidak diserahkan kepada Allah.
Yusuf tidak menyangkal luka masa lalunya, namun ia tidak memelihara lukanya. Ia memprosesnya bersama Allah selama bertahun-tahun di Mesir. Selama luka masih kita peluk, dendam akan terus hidup. Saat luka kita serahkan kepada Allah, hati mulai sembuh.
Yusuf melihat peristiwa dari sudut pandang rencana Allah. Ia berkata: “Allah menyuruh aku mendahului kamu.” Ia tidak lagi melihat: “kamu menjual aku” melainkan: “Allah mengutus aku”. Peristiwanya sama, sudut pandangnya berbeda.
Orang pendendam fokus pada kesalahan orang. Orang yang sembuh fokus pada rencana Allah. Ketika kita mulai melihat hidup dari kacamata Allah, dendam kehilangan alasan untuk tinggal. Yusuf tidak membenarkan kesalahan saudaranya, ia hanya memilih untuk tidak hidup terikat oleh masa lalu.
Pengampunan bukan berarti:
Melupakan kejadian, membenarkan kesalahan, atau berpura-pura tidak sakit. Pengampunan adalah keputusan: "Aku tidak akan membiarkan masa lalu menguasai masa depanku."
Mari Berdoa:
Tuhan, ajarku menyerahkan luka kepada-Mu. Ubah cara pandangku melihat masa lalu, dan lepaskan aku dari belenggu dendam, supaya hatiku merdeka seperti Yusuf. Dalam Nama Yesus. Amin.
- Pdt. Agus Winardi
