KELUAR DARI SIFAT PENDENDAM 3
Saudara yang terkasih, sering kali kita menjumpai realita di mana kekecewaan pribadi terhadap seseorang meluas menjadi kebencian kolektif terhadap kelompok atau sukunya.
Inilah yang terjadi pada Haman. Hanya karena rasa tersinggungnya terhadap Mordekhai, ia menggeneralisasi kebenciannya hingga merasa perlu memusnahkan seluruh bangsa Yahudi sebagai bentuk pembalasan.
"Sifat pendendam, apabila berpadu dengan kekuasaan, akan menjadi kekuatan yang sangat menghancurkan."
Jika bukan karena campur tangan Tuhan, niat jahat Haman niscaya akan terwujud—sebagaimana dendam Herodias yang berujung pada kematian Yohanes Pembaptis. Kita pun tidak luput dari rasa terluka, dihina, atau direndahkan. Namun, luka yang tidak dikelola dengan benar akan berubah menjadi bara dendam yang menanti saat untuk membalas.
Bersyukurlah kita memiliki Tuhan Yesus yang mampu membasuh hati kita dengan damai sejahtera-Nya. Dia memberikan kita cara pandang baru yang berlandaskan kebenaran, sehingga hati kita tidak lagi terbelenggu oleh kemarahan masa lalu.
Sikap pendendam bukanlah cerminan dari hati yang dipimpin Tuhan. Mari terus mengupayakan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) agar hidup kita memancarkan kasih, kesabaran, dan penguasaan diri.
