KEHENDAK TUHAN YANG TIDAK MENYENANGKAN
Renungan Hari Ini
Seringkali kita memahami "Kehendak Tuhan" sebagai sesuatu yang indah, berkat yang melimpah, atau jalan yang mulus tanpa hambatan. Namun, realitas kehidupan iman terkadang membawa kita pada situasi yang jauh dari kata nyaman. Kisah Rasul 21:11-14 memberikan perspektif yang radikal mengenai bagaimana seorang murid Kristus menyikapi kehendak Tuhan yang sulit, bahkan menyakitkan.
Tiga Hal yang Dilakukan Rasul Paulus:
Pertama - Berserah pada ketaatan total.
Bagi orang-orang di sekitar Paulus, ini adalah berita buruk yang harus dihindari. Tetapi bagi Paulus, mengikuti rencana Allah berarti harus melewati lembah kekelaman, pengkhianatan, atau kehilangan, bukan sekadar puncak gunung yang indah.
Kedua - Paulus tidak sedang bersikap keras kepala.
Ia menunjukkan sebuah keteguhan iman yang telah melampaui ego dan keinginan akan kenyamanan diri sendiri. Ia memahami bahwa panggilan Tuhan lebih besar daripada kenyamanan hidupnya.
Ketiga - Percaya pada Kedaulatan Allah.
Puncak dari renungan ini ada pada ayat 14: "...kami menyerah dan berkata: 'Jadilah kehendak Tuhan!'" Kalimat ini bukanlah ucapan keputusasaan, melainkan bentuk tertinggi dari penyerahan diri. Mereka memilih untuk berhenti memaksakan skenario sendiri dan tunduk sepenuhnya pada rencana Tuhan yang misterius.
Kesimpulan:
Memikul salib Kristus tidak selalu mudah. Biarlah kita juga berani berkata dengan iman: "Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku." Amin.
