KAIN DAN HABEL-MEREDAM POTENSI KONFLIK KELUARGA
Membangun Fondasi Keluarga: Belajar dari Kegagalan Relasi di Alkitab
Kejadian 4:2 — Selanjutnya dilahirkannyalah Habel, adik Kain; dan Habel menjadi gembala kambing domba, Kain menjadi petani.
Dari kisah Kain dan Habel, kita dapat belajar banyak hal mendasar mengenai dinamika sebuah keluarga:
[Pertama] Kecemburuan yang tidak ditangani dengan baik.
Kain dan Habel tinggal di bawah satu atap rumah yang sama bersama ayah dan ibu mereka. Namun, di dalam rumah tersebut bertumbuh rasa kecemburuan yang tidak pernah disadari oleh orang tua mereka. Terdapat rasa iri hati dan spirit persaingan yang tidak sehat di antara kedua bersaudara ini.
Kejadian 4:4 — Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu.
Bagi saya, sebetulnya ayat ini tidak menyimpan masalah yang perlu dipersoalkan secara lahiriah. Seharusnya, seorang anak tetap memahami bahwa anggota keluarga bukanlah pesaing yang harus dilawan atau dicurigai.
Namun, justru melalui peristiwa inilah awal mula Kain menyimpan amarah yang mendalam terhadap adiknya. Jika ditelusuri lebih jauh, respons ini mengindikasikan sebuah hubungan yang memang sudah lama retak, penuh gesekan, dan tidak sehat.
Hingga akhirnya, puncak dari konflik tersembunyi tersebut meledak pada ayat berikut:
Ini adalah sebuah peringatan keras bagi kita semua yang memiliki anak lebih dari satu.
[Kedua] Memiliki "jagoan" masing-masing dalam keluarga.
Jika kita membaca kisah Esau dan Yakub, kita melihat bagaimana orang tua gagal menciptakan iklim yang sehat di dalam keluarga mereka. Ishak lebih mengasihi Esau, sementara Ribka lebih mengasihi Yakub.
Tanpa disadari, orang tua sering kali memiliki "jagoan" dan juara masing-masing, yang pada ujungnya melahirkan pilih kasih. Ishak mencintai Esau karena sosoknya yang gagah perkasa dan gemar berburu, sementara Ibu Ribka merasa lebih cocok dengan Yakub karena ia lebih suka tinggal di rumah.
Kekeliruan orang tua dalam memperlakukan anak ini menyebabkan perselisihan di antara keduanya semakin memuncak. Yakub, atas petunjuk dan siasat ibunya, menipu Ishak untuk merebut hak kesulungan Esau. Tindakan tersebut membuat Esau sangat membenci Yakub. Ia menyimpan dendam yang mendalam kepada adiknya, bahkan berniat untuk membunuhnya.
[Ketiga] Sikap pilih kasih.
Pola keliru ini terus berulang pada generasi berikutnya, seperti yang terlihat pada relasi Yakub (Israel) kepada anak-anaknya.
Karena mendapat perlakuan khusus dan eksklusif dari ayah mereka, Yusuf semakin dibenci oleh saudara-saudaranya. Padahal, jika kita telaah secara objektif, akar kesalahannya ada pada orang tua mereka. Akibat perlakuan diskriminatif tersebut, kakak-kakak Yusuf membencinya, berencana membunuhnya, dan akhirnya menjual Yusuf sebagai seorang budak.
Mari kita perhatikan kembali akibat dari sikap Yakub dan puncak kecemburuan saudara-saudara Yusuf:
Saya ingin bertanya: siapakah yang sebenarnya harus disalahkan dalam lingkaran konflik ini? Jawabannya adalah orang tua mereka.
Pola sejarah ini tetap tidak berubah: konflik intergenerasional yang dibiarkan akan selalu menghasilkan perpecahan.
Kembali kepada Kebenaran Firman Tuhan:
[Pertama] Setiap anak Tuhan harus belajar berlaku adil dan menyadari bahwa setiap orang dianugerahi karunia serta nilai (value) yang berbeda. Seseorang mungkin istimewa dalam satu hal, namun memiliki kelemahan di hal yang lain.
[Kedua] Kita harus menyadari bahwa berkat, rezeki, kemujuran, dan keberuntungan, semuanya berada di bawah kendali dan kedaulatan Tuhan.
[Ketiga] Semua orang pasti mendambakan kesempurnaan. Namun, terkadang realitas di lapangan bisa sangat berbeda, bahkan terasa menyakitkan. Kuncinya adalah belajar untuk "mengucap syukur dalam segala hal".
Oleh karena itu, jangan pernah bosan untuk meneladankan karakter yang benar, kasih yang adil, dan kedamaian di dalam kehidupan keluarga kita.
Tuhan Memberkati - Pdt. Agus Winardi.
